SoyBeaN Indonesia Dorong Penguatan Budaya Keamanan Pangan melalui Pelatihan Personal Hygiene dan Employee Health

SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.

Bogor, 22 Agustus 2026 — Kesadaran bahwa keamanan pangan tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, proses produksi, dan fasilitas, tetapi juga oleh kesehatan serta perilaku manusia yang menangani pangan, menjadi perhatian penting dalam industri pangan berbasis kedelai. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Personal Hygiene dan Employee Health yang diselenggarakan oleh Indonesia Soyfood and Beverage Network (SoyBeaN Indonesia) pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Pelatihan tersebut diikuti oleh pelaku dan perwakilan industri pangan berbasis kedelai sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan penerapan prinsip higiene serta kesehatan karyawan dalam mendukung keamanan produk pangan.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Hendry Noer Fadlillah, S.T.P., M.P., Dosen Teknologi Pangan Universitas Lintas Internasional Indonesia (IULI), hadir sebagai salah seorang narasumber. Dr. Hendry membawakan materi bertajuk “Employee Health and Fitness to Work”, yang membahas secara komprehensif hubungan antara kesehatan karyawan, kelayakan bekerja, higiene personal, dan pencegahan kontaminasi pangan.

Kesehatan Karyawan sebagai Bagian Penting dari Keamanan Pangan

Dalam paparannya, Dr. Hendry menekankan pentingnya menempatkan kesehatan karyawan sebagai bagian integral dari sistem keamanan pangan. Penjamah pangan dapat menjadi salah satu jalur utama transmisi patogen ke produk pangan melalui kontak langsung.

Kondisi kesehatan karyawan yang tidak baik juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kontaminasi dan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan. Karena itu, produk pangan yang aman membutuhkan tenaga kerja yang sehat sekaligus menerapkan higiene yang baik.

Pesan tersebut diperkuat dengan pembahasan mengenai penelitian yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara perilaku higienis (hygienic behavior) dengan keberadaan bakteri Escherichia coli pada makanan. Dalam presentasinya, Dr. Hendry juga mengangkat sebuah kasus keracunan pangan yang melibatkan 10 orang, dengan Staphylococcus aureus yang dikaitkan dengan kontaminasi dari tangan karyawan yang mengalami luka.

Kasus tersebut memberikan gambaran bahwa kondisi kesehatan dan luka pada karyawan bukan semata-mata persoalan individu, tetapi dapat menjadi aspek penting dalam pengendalian bahaya keamanan pangan.

Memahami Konsep Fitness to Work

Salah satu topik utama yang disampaikan adalah konsep Fitness to Work atau kelaikan untuk bekerja sebagai penjamah pangan.

Dr. Hendry menjelaskan bahwa status kesehatan penjamah pangan perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa kondisi individu tidak menjadi sumber kontaminasi pangan. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan apabila diperlukan berdasarkan indikasi medis, epidemiologis, maupun ketentuan yang berlaku.

Kriteria kelaikan juga mencakup kondisi kesehatan umum serta tidak adanya gejala klinis yang berpotensi meningkatkan risiko keamanan pangan. Beberapa gejala yang menjadi perhatian antara lain muntah, diare, sakit perut, jaundice atau sakit kuning, demam, serta sakit tenggorokan yang disertai demam.

Luka pada Tangan Tidak Boleh Diabaikan

Salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam pelatihan adalah kondisi kulit dan tangan penjamah pangan.

Dr. Hendry menjelaskan bahwa luka terbuka, bisul, atau penyakit kulit pada bagian tubuh yang tidak terlindungi dapat menjadi sumber kontaminasi. Apabila terdapat luka pada tangan, luka tersebut harus ditutup dengan perban kedap air (waterproof dressing) dan, apabila diperlukan, dilindungi lebih lanjut dengan sarung tangan sekali pakai.

Selain kondisi luka, higiene personal juga menjadi bagian penting. Tangan harus selalu bersih, kuku dipotong pendek, serta penjamah pangan tidak mengenakan perhiasan ketika menangani makanan.

Mengenali Patogen yang Berpotensi Ditularkan melalui Penjamah Pangan

Dalam sesi tersebut, peserta juga diajak mengenali sejumlah patogen penting yang berkaitan dengan penularan melalui penjamah pangan, antara lain Norovirus, Hepatitis A virus, Salmonella Typhi, Shigella spp., Shiga toxin-producing Escherichia coli (STEC), dan Salmonella non-tifoid.

Pemahaman mengenai patogen tersebut penting agar industri dapat membangun sistem pencegahan yang lebih efektif. Penjamah pangan juga perlu memahami gejala yang wajib dilaporkan kepada pimpinan, seperti muntah dan diare, jaundice, sakit tenggorokan yang disertai demam, serta luka atau bisul terinfeksi pada bagian tubuh yang terbuka.

Membangun Budaya Pelaporan yang Transparan

Dr. Hendry juga menyoroti pentingnya budaya transparansi dalam pelaporan kondisi kesehatan karyawan.

Karyawan perlu melaporkan gejala, diagnosis, maupun riwayat paparan tertentu sebelum mulai bekerja. Di sisi lain, manajemen atau person in charge (PIC) memiliki peran untuk melakukan wawancara kesehatan secara rutin dan memastikan karyawan memahami prosedur pelaporan.

Namun, penerapan sistem pelaporan tersebut tetap harus memperhatikan kerahasiaan dan privasi informasi kesehatan karyawan.

Dengan demikian, pelaporan kondisi kesehatan seharusnya dipandang sebagai bagian dari budaya keamanan pangan, bukan sebagai bentuk hukuman bagi karyawan yang sedang mengalami masalah kesehatan.

Eksklusi dan Restriksi sebagai Strategi Manajemen Risiko

Materi yang disampaikan Dr. Hendry juga membahas bagaimana perusahaan dapat menangani karyawan yang sedang sakit melalui pendekatan exclusion dan restriction.

Exclusion merupakan larangan total bagi karyawan untuk memasuki fasilitas pangan dan digunakan pada kondisi yang memiliki tingkat risiko tinggi, seperti muntah, diare, atau jaundice. Kebijakan ini dapat mencakup berbagai area operasional, mulai dari penerimaan, persiapan, penyimpanan, pengemasan, penyajian, hingga pengangkutan pangan.

Sementara itu, restriction merupakan pembatasan tugas. Karyawan masih dapat bekerja, tetapi tidak diperbolehkan melakukan kontak langsung dengan pangan terbuka, peralatan bersih, peralatan makan, linen, maupun barang sekali pakai yang tidak terbungkus. Dalam kondisi tertentu, karyawan dapat dialihkan ke pekerjaan yang tidak melibatkan kontak dengan pangan, seperti tugas kasir, menyambut pelanggan, atau pekerjaan pembersihan dan pemeliharaan non-pangan.

Pendekatan berbasis risiko tersebut memberikan kerangka praktis bagi industri untuk mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi kesehatan karyawan.

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Selain pelaporan kondisi kesehatan, pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi salah satu aspek yang ditekankan dalam pelatihan.

Materi menyebutkan bahwa pemeriksaan kesehatan dilakukan pada awal masuk kerja sesuai kategori atau jenis usaha dan secara berkala minimal satu kali dalam setahun, atau lebih sering apabila ditentukan berdasarkan risiko, kebutuhan medis, maupun kebijakan perusahaan. Tujuannya adalah memantau status kesehatan karyawan secara berkelanjutan dan mendeteksi kemungkinan infeksi asimtomatik.

Pemeriksaan dapat mencakup pemeriksaan fisik umum, skrining penyakit menular, serta pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi status carrier apabila diperlukan. Salah satu metode yang dibahas adalah rectal swab untuk mendeteksi kemungkinan pembawa patogen penyebab penyakit saluran pencernaan.

Kapan Karyawan Dapat Kembali Bekerja?

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kriteria kembali bekerja atau reinstatement.

Menurut materi yang disampaikan, keputusan untuk kembali bekerja atau kembali menangani pangan ditentukan berdasarkan hilangnya gejala, jenis penyakit, risiko kontaminasi, ketentuan yang berlaku, serta medical clearance apabila diperlukan.

Untuk kondisi tertentu, seperti jaundice atau diagnosis patogen, diperlukan izin tertulis dari dokter atau otoritas kesehatan sebelum status eksklusi dicabut. Manajemen juga perlu memastikan kelengkapan dokumen medis sebelum mengizinkan karyawan kembali bekerja.

Membangun Budaya Keamanan Pangan dari Karyawan

Menutup paparannya, Dr. Hendry menegaskan bahwa kesehatan karyawan merupakan investasi dalam keamanan produk. Kedisiplinan dalam melaporkan kondisi kesehatan dan melaksanakan pemeriksaan secara berkala menjadi bagian penting dalam mencegah kontaminasi pangan.

Lebih jauh, keamanan pangan membutuhkan budaya organisasi yang mendorong setiap karyawan untuk jujur mengenai kondisi kesehatannya.

Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi industri pangan berbasis kedelai yang terus berkembang. Penguatan keamanan pangan tidak cukup hanya melalui pengendalian bahan baku dan proses produksi, tetapi juga harus dilakukan melalui pengelolaan manusia yang terlibat langsung dalam penanganan pangan.

Melalui pelatihan Personal Hygiene dan Employee Health ini, SoyBeaN Indonesia memberikan ruang bagi industri pangan berbasis kedelai untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya kesehatan karyawan sebagai bagian dari sistem keamanan pangan.

Pada akhirnya, pangan yang aman membutuhkan proses yang aman, lingkungan yang higienis, dan manusia yang sehat serta bertanggung jawab dalam menangani pangan.

Penulis: Dr. Hendry Noer Fadlillah



Berita seputar "Food Technology:"

IULI Peringati Hari Keamanan Pangan Sedunia 2026 dengan Webinar FSSC 22000 Versi 7 dan Keberlanjutan Pangan
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Dorong Inovasi Bisnis Kopi, Universitas Lintas Internasional Indonesia (IULI) Gelar Coffeepreneur Bootcamp 2026 Gratis untuk Siswa di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Dosen IULI Menjadi Pembicara pada Focus Group Discussion GAKOPTINDO
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Mari Kurangi Sampah Pangan
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Dosen IULI Bergabung dalam Kepengurusan PERGIZI PANGAN Indonesia
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.

Berita Lain

Dosen IULI Menjadi Pembicara pada Focus Group Discussion GAKOPTINDO
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
SoyBeaN Indonesia Dorong Penguatan Budaya Keamanan Pangan melalui Pelatihan Personal Hygiene dan Employee Health
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Dorong Inovasi Bisnis Kopi, Universitas Lintas Internasional Indonesia (IULI) Gelar Coffeepreneur Bootcamp 2026 Gratis untuk Siswa di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Universitas Lintas Internasional Indonesia Resmi Menerima SK Pembukaan Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi dan Program Profesi Dokter Gigi
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.
Publikasi Internasional Baru dari IULI Mengulas Masa Depan Produksi Protein Berkelanjutan
2026-08-22 18:29:51 by Irenia Jastisia
SoyBeaN Indonesia memperkuat kesadaran keamanan pangan di industri makanan dan minuman berbasis kedelai melalui pelatihan personal hygiene, kesehatan karyawan, dan fitness to work.

Berita Halaman Depan


© Universitas Lintas Internasional Indonesia 2025 - All rights reserved.